Minggu, 22 September 2013

Past!

Kulihat jam berdenting, senyuman kecil tersimpul diujung bibirku. Senyum yang aku sendiri tak tau artinya , bahagiakah? Entahla :”) dalam hitungan detik airmata yang berkali-kali jatuh harus jatuh lagi. Kulipat tanganku, “Dia Tuhan… aku menyayanginya pegang tangannya untuk tetap denganMu Tuhan, jaga dia, buka jalan kebahagiaan baginya dia anakMu yang baik, kuyakini itu Bapa ”

Banyak hal yang terlintas dipikiranku, banyak kejadian yang tidak dia ketahui. Aku belum sempat mengungkapkan nya, kisah indah ini terlalu singkat. Aku yang selalu memilih diam dan tampak bodoh dengan itu semua, mungkin dia juga akan tertawa setelah mendengarnya tapi yaaa …

Ketika kau marah kau diam kau tersenyum kau tertawa kau berbicara kau memelukku kau menciumku kau menatap mataku, raut wajah itu tersimpan lekat dikepalaku.
Bolehkah aku bercerita awal pertemuan kita? Mungkin jika kamu menyempatkan diri untuk ini kamu akan bosan membacanya. Aku ingat percakapan kita dikala itu, kalau saja aku bisa minta pada Tuhan untuk menyimpan semua dengan sangat rapi dan bisa mengulang setiap peristiwa manis itu untuk kesekian kalinya. Ingat apa yang kau lakukan ketika ulang tahun ku, kau datang kau memelukku, kubiarkan kau menciumku, helaan napasmu, detak jantungmu dan desir aneh yang kurasakan saat berada didekatmu.

Hahhh aku merindukanmu, apa yang bisa aku lakukan? aku tak bisa berbuat banyak selain menunggumu bicara lebih dulu, aku selalu lebih kuat membisu, dan aku tak ingin melupakanmu. Kularikan rasa rinduku kedalam sebuah tulisan, disini aku bisa menangis sendu tanpa membuat tuli telingamu, aku rindu kamu dan kamu nampaknya tidak pernah tahu betapa lelahnya airmata ini mengukir hari-hari, kucoba untuk mulai menyapa, tapi tidak! kuyakin pelupuk mata ini tidak akan sanggup menahan kesedihan, bahkan hanya untuk menatap namamu dan nama wanita itu dilayar monitor

Aku menghela nafas berat membayangkan kau dengan nya, kau dengan wanita-wanitamu, kau melakukan hal manis yang sama seperti yang kau lakukan padaku, mereka mencintaimu sama seperti aku, tapi sebuta itukah matamu sehingga kau tak bisa melihat bahwa ada seorang wanita yang memikul  beban karena cintanya bertepuk sebelah tangan? Seberapa matikah perasaanmu hingga kau tak sadar ada orang yang sangat memperhatikanmu bahkan dari kejauhan sekalipun?

Orang sekelilingku meyakinkan bahwa aku layak berpisah denganmu, aku coba untuk mengikuti, perlahan kucoba lepaskan segala rasaku. Terkadang aku merasa ya perasaan itu hilang tapi kenapa kemudian disetiap doaku harus ada namamu?

Diujung malam ini, tangisanku kembali pecah oleh senandung-senandung yang kuciptakan sendiri disela-sela aktivitasku. Senandung lagu yang dulu pernah kita bicarakan lagu yang selalu mewakili perasaan dan cinta kita. Rinduku semakin menjadi-jadi. Aku tak pernah tau cara lain untuk melegakan hatiku kecuali dengan berdoa, berkali-kali ku ucap namamu, kuserahkan perasaan ini dalam doa dengan salib yang kupegang, kubawa namamu dan kuyakinkan pada Tuhan perasaanku tidak salah, kan kujaga sampai aku tak mampu lagi berdiri oleh karena cinta :")

Tidak ada komentar:

Posting Komentar