Saling kenal namun tak menyangka kan sesampai ini, awal ketika aku
terjatuh kau datang dengan sejuta cerita duka. Mungkin ini yang namanya
bahagia, ketika dua hati terluka menyatu dan katakan kepada
mereka-mereka yang pernah melukai bahwa kita, kamu dan aku layak bahagia
seperti mereka yang telah menyiram kita dengan airmata .
Tak
ada rasa, hari-hari ku isi dengan melihatmu dari kejauhan. Tak tau
harus kepada siapa lagi diri ini bertanya kemana dia? Apa yang sedang
dia lakukan? Apa dia tau aku mencarinya? Tolong beri aku kabar, tolong
katakan padaku kita baik-baik saja. Haaa ya ini cara ku, seolah dunia
maya berbicara, dunia maya memberitahu ku bahwa cerita hidup kekasihku
yang maya adalah nyata. Hahaha kini aku tau perlahan aku mengenalmu
bukan seperti meneliti sebuah objek dengan menggunakan mikroskop didalam
laboratorium, aku mengenalmu dengan caraku dengan lelahku dengan layar
komputer ini.
Ada rasa, cukup sakit melihat kau yang
telah menjadi milik ku dengan dia yang pernah melukai mu kembali
menjalin komunikasi yang menurutku cukup berarti. Aku tak menyalahkan
kalian yang masih saling memiliki rasa tapi aku juga tak menyalahkan
diriku yang mulai mencinta kepada kekasihku sendiri, dia milikku ! Semua
orang tau itu. Aku tau tak secepat jam berdenting untuk merajut kisah
indah, kenangan yang banyak membuat kalian kembali bersatu, itu tidak
mustahil. Tapi tidak, aku juga memiliki hati, perasaanku tumbuh seiring
dengan kelakuanmu yang sering menyakitiku, jujur semakin kau menyakiti
semakin aku tak bisa melepasmu, apa ini? Aku yang tiba-tiba merasa
rendah saat milikku yang kini mulai kujaga hampir utuh diambil oleh
orang masa lalu. Sekali lagi kukatakan tidak, tidak kubiarkan wanita itu
menjadi pemenang.
Kita berjalan, panjang nya jarak
kemudian menjadi alasan kamu memperlakukan aku layaknya tak ada sesuatu
diantara kita, banyak cerita sakit yang kau ceritakan sepanjang
perjalanan. Katamu kau tak menyayangi ku seperti kau menyayangi mereka
yang sempat mengecup pipimu, hati ini bertanya “tak bersungguh-sungguh
kah dia? “ Tapi mengapa suatu ketika kamu dan aku berbaikan, kamu malah
membicarakan bahwa kita adalah masa depan. Bahagiaaaaaaaa oh tuhan aku
mencintainya.
Tidak pernah aku merasa ini akhir dari
sakitku, semua nyata. Aku harus bisa menarikmu dari cinta dia, aku
percaya diri bahwa selama aku bernafas dan airmata ku masih terjatuh aku
yakin aku mampu membawamu kejanji kita diawal , "Kau dan aku menjadi kita dengan tetap mengandalkan Tuhan". Aku tak
menganggap diriku benar tapi ya dia orang yang salah. Aku benci dia
menyakitimu.
Aku berdoa “Tuhan dewasakan aku “ .
Dia
mencari celah untuk selalu berada diantara kita, tawaku lepas ketika
aku dan seluruh dunia tau aku pemenangnya sekalipun aku mengerti bahwa
hatimu belum kugapai, senyum kecilmu bukan karena pesan singkatku,
ceritamu bukan kau deskripsikan kepadaku, candaan bodohmu bukan untuk
melihat aku tertawa. Tapi dia ! Terlintas sesaat untuk memaki dia yang
menjadi benalu, tetapi kembali kepada Tuhan yang mengajarkanku untuk
bersabar.
Kita bertemu diwaktu yang ku perjuangkan,
dimana kamu mencari alasan untuk tidak memperhatikan tingkah bodohku.
Bisu adalah caraku dan caramu berkomunikasi. Hanya ada suara berisik
mereka, orang-orang yang mencairkan suasana diantara kita. Ada satu
pertanyaan di benakku “ Apakah kau melakukan hal sama kepada mereka
yang sempat mengecup pipimu?”
Aku bingung, aku terseyum kecut
menatap semua kebodohanku, ini kesekian kali nya aku harus tunduk kepada
cinta. Tapi ini berbeda, cinta ini benar mendewasakan ku, cinta ini
membuatku kuat, tetesan airmata yang berulang kali harus tumpah bukan
sebagai simbol kelemahanku, ya aku kuat.
Semua yang
kau minta tak pernah terabaikan oleh pandanganku, sebisa mungkin aku
selalu meyempurnakannya dengan tetesan keringatku. Jujur aku tidak
mampu, hanya saja cintaku selalu berbalut dengan usaha dan aku bisa.
Waktu ku habis tersita oleh banyaknya caraku membuatmu terenyum. Kenapa
kau tak melakukan hal yang sama ? Karena kau tak mencintaiku? AKU
MENANGIS . Mereka yang melihat ku hanya bisa menghela nafas mengelus
punggung dan berucap “Berhentilah, kelak dia akan sadari itu dia akan
mengejarmu jika benar dia mencintaimu”.
Waktu kembali
mengukir kisah dimana suatu ketika kita kembali bersama, kini seketika
wanita itu pergi, tidak ada alasan bagi kita untuk melulu membahas dia.
Kau membiarkanku melihat senyummu, kau mengizinkan aku melihat matamu.
Banyak hal berbeda yang kau berikan. Sejenak aku terkesiap dengan
tingkah lucumu. Kata mereka yang melihat, perjuanganku sudah berbuah
manis, kau mencintaiku. Benarkah?
Munafik aku tidak
bahagia, bangga, dan sebagainya dengan hal ini. Perasaan yang semua
orang ku tau pernah merasakannya, menggebu-gebu , bodoh, mengabaikan
logika dengan beribu janji dengan satu tujuan yaitu bersama selamanya,
berjuta khayal dengan harapan yaitu berdua selamanya.
Lalu kenapa
kemudian kau kembali merajut cerita duka disaat seperti ini? Kataku
“JANGAN !” haha tak ada artinya dengan sengaja kamu menulis kisah bahwa
aku jahat. Selalu dan selalu, kau tak menghargaiku. Kau lebih memilih
aku sebagai penonton setia dimana kauu dan dia sebagai peran utama .
Janji dan peraturan tidak berlaku lagi. Apa aku harus terus bersikap
manis dan mengikuti segala kemauanmu sementara kauu hanya menumpahkan
tinta kemarahan dikertas putih yang kujaga untuk membungkus kisah kita?
Hati ini manusiawi, tidak sekeras baja. Dengar, suatu saat jika memang
aku pergi kupastikan bukan karena aku rasa ini habis disapu bersih oleh
deru angin bukan karena ada seseorang yang jauh dibanding dengan mu
tetapi karena dirimu yang selalu menggoreskan airmata kekesalan amarah
cemburu dipipiku. Sudahi.
Lanjut, perjalanan menuju
kerajaan ternyata tidak saja hanya dengan menunggangi kuda Sang Raja dan
Sang Ratu harus meniti jalan berliku, well tidak ada kebahagiaan yang
datang begitu saja tanpa melewati tumpukan jarum di sepanjang
perjalanan. Aku tau aku dan kau bisa melewatinya. Orang terdekat
memaksa kita untuk segera menatap diri masing-masing dimasa depan. Tapi
kenapa harus dengan cara melepasmu? ?Tidak! Tuhan lihat aku, Kau
mengenalku, tidakkah Kau melihat bahwa aku menjadi hamba yang taat
akan-Mu setelah mengenal dia? Lalu kenapa keadaan harus memaksaku
melepasnya? Ini rancangan-Mu kah Tuhan ? Tuhan buka jalan agar aku dapat
selalu bersamanya , Tuhan biarkan aku menjadi wanita yang duduk
dihadapannya dengan secangkir kopi panas dipagi hari, Tuhan katakan
bahwa aku satu-satunya wanita yang akan mengajaknya berdiri menantang
dunia. *Yohanes Aripranata Tambunan{}
Tidak ada komentar:
Posting Komentar