Senin, 16 September 2013

Yohanes Aripranata Tambunan.

Saling kenal namun tak menyangka kan sesampai ini, awal ketika aku terjatuh kau datang dengan sejuta cerita duka. Mungkin ini yang namanya bahagia, ketika dua hati terluka menyatu dan katakan kepada mereka-mereka yang pernah melukai bahwa kita, kamu dan aku layak bahagia seperti mereka yang telah menyiram kita dengan airmata .

Tak ada rasa, hari-hari ku isi dengan melihatmu dari kejauhan. Tak tau harus kepada siapa lagi diri ini bertanya kemana dia? Apa yang sedang dia lakukan? Apa dia tau aku mencarinya? Tolong beri aku kabar, tolong katakan padaku kita baik-baik saja. Haaa ya ini cara ku, seolah dunia maya berbicara, dunia maya memberitahu ku bahwa cerita hidup kekasihku yang maya adalah nyata. Hahaha kini aku tau perlahan aku mengenalmu bukan seperti meneliti sebuah objek dengan menggunakan mikroskop didalam laboratorium, aku mengenalmu dengan caraku dengan lelahku dengan layar komputer ini.

Ada rasa, cukup sakit melihat kau yang telah menjadi milik ku dengan dia yang pernah melukai mu kembali menjalin komunikasi yang menurutku cukup berarti. Aku tak menyalahkan kalian yang masih saling memiliki rasa tapi aku juga tak menyalahkan diriku yang mulai mencinta kepada kekasihku sendiri, dia milikku ! Semua orang tau itu. Aku tau tak secepat jam berdenting untuk merajut kisah indah, kenangan yang banyak membuat kalian kembali bersatu, itu tidak mustahil. Tapi tidak, aku juga memiliki hati, perasaanku tumbuh seiring dengan kelakuanmu yang sering menyakitiku, jujur semakin kau menyakiti semakin aku tak bisa melepasmu, apa ini? Aku yang tiba-tiba merasa rendah saat milikku yang kini mulai kujaga hampir utuh diambil oleh orang masa lalu. Sekali lagi kukatakan tidak, tidak kubiarkan wanita itu menjadi pemenang.

Kita berjalan, panjang nya jarak kemudian menjadi alasan kamu memperlakukan aku layaknya tak ada sesuatu diantara kita, banyak cerita sakit yang kau ceritakan sepanjang perjalanan. Katamu kau tak menyayangi ku seperti kau menyayangi mereka yang sempat mengecup pipimu, hati ini bertanya “tak bersungguh-sungguh kah dia? “ Tapi mengapa suatu ketika kamu dan aku berbaikan, kamu malah membicarakan bahwa kita adalah masa depan. Bahagiaaaaaaaa oh tuhan aku mencintainya.

Tidak pernah aku merasa ini akhir dari sakitku, semua nyata. Aku harus bisa menarikmu dari cinta dia, aku percaya diri bahwa selama aku bernafas dan airmata ku masih terjatuh aku yakin aku mampu membawamu kejanji kita diawal , "Kau dan aku menjadi kita dengan tetap mengandalkan Tuhan". Aku tak menganggap diriku benar tapi ya dia orang yang salah. Aku benci dia menyakitimu.

Aku berdoa “Tuhan dewasakan aku “ .
Dia mencari celah untuk selalu berada diantara kita, tawaku lepas ketika aku dan seluruh dunia tau aku pemenangnya sekalipun aku mengerti bahwa hatimu belum kugapai, senyum kecilmu bukan karena pesan singkatku, ceritamu bukan kau deskripsikan kepadaku, candaan bodohmu bukan untuk melihat aku tertawa. Tapi dia ! Terlintas sesaat untuk memaki dia yang menjadi benalu, tetapi kembali kepada Tuhan yang mengajarkanku untuk bersabar.

Kita bertemu diwaktu yang ku perjuangkan, dimana kamu mencari alasan untuk tidak memperhatikan tingkah bodohku. Bisu adalah caraku dan caramu berkomunikasi. Hanya ada suara berisik mereka, orang-orang yang mencairkan suasana diantara kita. Ada satu pertanyaan di benakku “ Apakah kau melakukan hal sama kepada mereka yang sempat mengecup pipimu?”
Aku bingung, aku terseyum kecut menatap semua kebodohanku, ini kesekian kali nya aku harus tunduk kepada cinta. Tapi ini berbeda, cinta ini benar mendewasakan ku, cinta ini membuatku kuat, tetesan airmata yang berulang kali harus tumpah bukan sebagai simbol kelemahanku, ya aku kuat.

Semua yang kau minta tak pernah terabaikan oleh pandanganku, sebisa mungkin aku selalu meyempurnakannya dengan tetesan keringatku. Jujur aku tidak mampu, hanya saja cintaku selalu berbalut dengan usaha dan aku bisa. Waktu ku habis tersita oleh banyaknya caraku membuatmu terenyum. Kenapa kau tak melakukan hal yang sama ? Karena kau tak mencintaiku? AKU MENANGIS . Mereka yang melihat ku hanya bisa menghela nafas mengelus punggung dan berucap “Berhentilah, kelak dia akan sadari itu dia akan mengejarmu jika benar dia mencintaimu”.

Waktu kembali mengukir kisah dimana suatu ketika kita kembali bersama, kini seketika wanita itu pergi, tidak ada alasan bagi kita untuk melulu membahas dia. Kau membiarkanku melihat senyummu, kau mengizinkan aku melihat matamu. Banyak hal berbeda yang kau berikan. Sejenak aku terkesiap dengan tingkah lucumu. Kata mereka yang melihat, perjuanganku sudah berbuah manis, kau mencintaiku. Benarkah?

Munafik aku tidak bahagia, bangga, dan sebagainya dengan hal ini. Perasaan yang semua orang ku tau pernah merasakannya, menggebu-gebu , bodoh, mengabaikan logika dengan beribu janji dengan satu tujuan yaitu bersama selamanya, berjuta khayal dengan harapan yaitu berdua selamanya.
Lalu kenapa kemudian kau kembali merajut cerita duka disaat seperti ini? Kataku “JANGAN !” haha tak ada artinya dengan sengaja kamu menulis kisah bahwa aku jahat. Selalu dan selalu, kau tak menghargaiku. Kau lebih memilih aku sebagai penonton setia dimana kauu dan dia sebagai peran utama . Janji dan peraturan tidak berlaku lagi. Apa aku harus terus bersikap manis dan mengikuti segala kemauanmu sementara kauu hanya menumpahkan tinta kemarahan dikertas putih yang kujaga untuk membungkus kisah kita? Hati ini manusiawi, tidak sekeras baja. Dengar, suatu saat jika memang aku pergi kupastikan bukan karena aku rasa ini habis disapu bersih oleh deru angin bukan karena ada seseorang yang jauh dibanding dengan mu tetapi karena dirimu yang selalu menggoreskan airmata kekesalan amarah cemburu dipipiku. Sudahi.

Lanjut, perjalanan menuju kerajaan ternyata tidak saja hanya dengan menunggangi kuda Sang Raja dan Sang Ratu harus meniti jalan berliku, well tidak ada kebahagiaan yang datang begitu saja tanpa melewati tumpukan jarum di sepanjang perjalanan. Aku tau aku dan kau bisa melewatinya. Orang terdekat memaksa kita untuk segera menatap diri masing-masing dimasa depan. Tapi kenapa harus dengan cara melepasmu? ?Tidak! Tuhan lihat aku, Kau mengenalku, tidakkah Kau melihat bahwa aku menjadi hamba yang taat akan-Mu setelah mengenal dia? Lalu kenapa keadaan harus memaksaku melepasnya? Ini rancangan-Mu kah Tuhan ? Tuhan buka jalan agar aku dapat selalu bersamanya , Tuhan biarkan aku menjadi wanita yang duduk dihadapannya dengan secangkir kopi panas dipagi hari, Tuhan katakan bahwa aku satu-satunya wanita yang akan mengajaknya berdiri menantang dunia. *Yohanes Aripranata Tambunan{}

Tidak ada komentar:

Posting Komentar